Penetapan Tersangka Berbau Korupsi Politik, Wabup Memilih Mundur
11 Mar 2012 Tinggalkan sebuah Komentar

Berbau “Korupsi Politik”, Wabup Memilih Mundur
Purwakarta, Pelita RAKYAT
Keputusan Kejaksaan Tinggi Negeri Jawa Barat menetpkan status tersangka terhadap Dudung B Supardi, Wakil Bupati Kabupaten Purwakarta dinilai sangat controversial dan sarat politik. Pasalnya, surat pengaduan nomor : 06/GMMP.KOR/08 tanggal 5 Agustus 2008 dan surat KPK RI Nomor : R-91/40/I/2009 tanggal 9 Januari 2009, atas nama Dedi Mulyadi, (Wakil Bupati yang saat ini jadi Bupati Purwakarta) yang masuk ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan korupsi makan minum sebesar Rp 11,86 miliar dan sesuai hasil audit BPK.
Selain itu, Kejaksaan Negeri Tinggi Jawab Barat telah menyakiti hati masyarakat Purwakarta, hak rakyat tidak dipedulikan dengan menetapkan Dudung B Supardi Tersangka. Seolah-olah hukum ditegakkan, padahal yang terjadi adalah sebuah lelucon. Korupsi politik yang merajalela diproduksi setiap saat, tetapi penegakannya tidak jelas. Itu di buktikan di fakta hukum bukti dipersidangan pada putusan perkara NO.65/ PID.B/2008/PN.PWK, terdapat orang yang memanfaatkan dana Islamic dan Makan Minum yaitu ada nama Lily Hambali (Bupati), Rahmat Gartiwa (Sekda), Entin Kartini (Bendahara) dan Dedi Mulyadi (Wakil Bupati). “Dalam kasus itu, tiga tersangka sudah di penjara. Tapi satu tersangka lagi belum, yaitu Dedi Mulyadi (Bupati Purwakarta). Kenapa Dedi Mulyadi tidak dijamah oleh hukum?, kenapa Dudung B Supardi yang dikorbankan?.
Langka Kejaksaan Tinggi Negeri Jawa Barat dituding kental dengan “korupsi politi”, setiap menjelang pemilukada di Kabupaten Purwakarta isu korupsi sangat kencang dihembuskan. “Saya telah di zolimi. Penetapan saya sebagai tersangka sarat muatan politis, makanya saya mengundurkan diri. Kenapa Dedy tidak dijamah oleh hukum?, ujar Dudung B Supardi, Wakil Bupati kepada Pelita RAKYAT.
Yang membuat hati miris, kasus yang hampir sama dengan Dudung B Supardi juga terjadi pada tahun 2007 menjelang pemilukada Purwakarta tahun 2008 yang menimpa Lily Hambali (Bupati ). Diam-diam, Kejaksaan Tinggi Jawa Barat menetapkan Lily sebagai saksi hingga tersangka kasus dugaan penyimpangan dana bencana alam senilai Rp 2 miliar dan pembangunan GIC Rp 1,7 miliar. “ Kasus korupsi ini diangkat menjelang Pemilu untuk menjatuhkan saya yang ikut balon bupati ,” ujar Lili Hambali saat itu.
Maka tak mengherankan, jika “Korupsi Politik” adalah yang paling jahat dibandingkan korupsi jenis lain. Dalam korupsi politik, hak rakyat tidak dipedulikan. Seolah-olah hukum ditegakkan, padahal yang terjadi adalah sebuah lelucon. Korupsi politik yang merajalela diproduksi setiap saat, tetapi penegakannya tidak jelas. “Semua kalangan masyarakat di Purwakarta sudah lama mengetahui bahwa kasus makan minum (mamim) terjadi sejak tahun 2006 ( 6 tahun yang lalu) sesuai hasil audit BPK, saya sudah mengabdi di pemerintahan dari tahun 1972, apa hasilnya?,” tandas Dudung.
Menurut Dudung, penetapan dirinya menjadi tersangka digulirkan karena ada ke pentingan menjelang Pilkada Purwakarta 2012. Dengan mencuatnya kasus tersebut, ada calon bupati lainnya yang merasa diuntungkan karena berkurang saingan. “Saya tidak pernah menyatakan mencalonkan diri sebagai bupati. Tapi dari Partai Demokrat menyatakan ingin mencalonkan. Setelah itu kasus ini ramai lagi,” katanya.
Selanjutnya, Dudung B Supardi melalui pengacaranya, Hari Ibrahim mengatakan, saat diperiksa oleh penyidik kliennya itu diperiksa mengenai riwayat hidup. “Saya merasa sedih ketika penyidik menanyakan tentang riwayat hidupnya. Dia dikorbankan menjadi tersangka. Sementara Entin Kartini (Pemegang Kas Daerah) dia jelas tidak pernah diperiksa menjadi tersangka,” kata Hari kepada wartawan.
Dia pun merasa janggal karena izin dari presiden mulai diajukan pada 2 Januari lalu. Akan tetapi, sebulan kemudian, izin itu sudah keluar. Hal itu dinilai Hari sangat aneh. “Beliau meminta ingin menyatakan mengundurkan diri dari Wabup. Unsur politisnya sangat kental. Besok dibikin, lusa mungkin akan dilayangkan. Lihat dari perkembangannya karena klien saya merasa dikorbankan,” kata dia.
Menurut dia, dalam waktu dekat ini ada Pemilihan. Pihaknyapun akan membeberkan beberapa penyelewengan dana yang dilakukan oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Seperti penyalahgunaan dana bantuan bencana alam dan dana Islamic Center anggaran 2003-2004, penyalahgunaan anggaran makan dan minum dan pengeluaran fiktif 27 mata anggaran 2006, tandasnya.
Catatan sebelumnya, Gerakan Moral Masyarakat Purwakarta atau GMMP sudah melaporkan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ke Kejaksaan Agung (Kejangung) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namun, penuntasannya tidak berjalan seperti yang diharapkan. “Sejumlah saksi di persidangan menyebut Dedi Mulyadi terlibat. Fakta persidangan itu semakin kuat dengan adanya bukti berupa surat pernyataan Entin Kartini, terdakwa dalam kasus tersebut, dan laporan hasil pemeriksaan Bawasda Purwakarta. Dedi Mulyadi juga tidak pernah dimintai keterangan meski namanya telah beberapa kali disebut oleh saksi di pengadilan, ujar,” Ketua GMMP Hikmat Ibnu Ariel.
GMMP antara lain menyerahkan bukti-bukti, rekaman dan transkrip persidangan dua kasus tersebut di Pengadilan Negeri Purwakarta, dan temuan dugaan korupsi dana makan minum. Materi tersebut diterima staf bagian Pengaduan Kejaksaan Agung (Kejagung) dan Direktorat Humas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di tempat terpisah.
Sedangkan informasi Pelita RAKYAT di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat melalui Penyidik Kejati Jawa Barat akan kembali memanggil Dudung B Supardi pada Senin (12/3/12). Kejati Jawa Barat telah menetapkan Dudung sebagai tersangka dalam dugaan korupsi dana makan-minum Kabupaten Purwakarta tahun 2006-2008 senilai Rp 14 miliar. Hal itu dibenarkan Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jawa Barat, Fadil Zumhanna. (Red/)
KAPTEN BONGSU PASARIBU
08 Agu 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
Menyelusuri Jejak Perjalanan Sejarah Komandan Harimau Mengganas Tapanuli Yang Terabaikan Pemerintah
Moment dalam mengisi Kemerdekaan Indonesia di tanah Tapanuli Tengah (Sibolga), Sumatera Utara, yang jatuh pada tanggal 17 Agustus, sebagian keluarga anak – cucu veteran menyempatkan diri mendatangi tempat makam Kapten Bongsu Pasaribu, Pahlawan Nasional asal Tapanuli Tengah di Makam Pahlawan Sibolga untuk menabur bunga.
Sementara ditempat kelahiran sang pahlawan dilahirkan, warga desa setempat pada tanggal itu merayakannya dengan membuat acara drama “Sidos” yang diprankan oleh anak-anak muda di rumah para veteran. Suasanya terlihat seperti nyata menirukan perjalanan sejarah dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Untuk setiap tanggal 17 Agustus, para tentara veteran, LVRI, bahkan pencari jejak sejarah perjuangan Komandan Harimau Mengganas Tapanuli pun masih terus mencari, mengumpulkan bukti bukti otentik sejarah sepak terjang sang pahlawan yang sudah terabaikan oleh pemerintah, untuk diangkat kembali untuk dibukukan.
Sebelumnya, ratusan rombongan dipimpin langsung Bupati Tapanuli Tengah, Drs Tuani L.Tobing, LVRI Tapteng, Dandim 0211/TT Letkol Kav Albiner Sitompul juga didampingi Panitia Bedah Buku ‘Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu’ yang di Ketua i Raja Johan Sitompul, tokoh masyarakat serta sejumlah wartawan cetak dan elektronik mendatangi kampung halaman sang pahlawan di Desa Hutagodang, Kecamatan Sorkam, Tapanuli Tengah.
Rombongan ini dalam penyelusurannya mengunjungi tempat makam sang pahlawan, dimulai dari Makam Pahlawan Sibolga, diteruskan ke tempat Tugu Monumen Perjuangan di Kecamatan Sorkam hingga ke rumah keluarga dan rumah para veteran di Desa Hutagodang. “Di desa kelahiran sang komandan, rombongan menyaksikan rumah dan desa tempat kelahiran sang pejuang, serta jembatan dan monumen untuk mengenang perjuangan sang komandan. Bersama rombongan, turut serta penulis buku ‘Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu’, yakni Dr Sudung Parlindungan Lumbantobing.
SANG PAHLAWAN DIPENGGAL BELANDA
Komandan Harimau Mengganas Tapanuli, Kapten Bongsu Pasaribu gugur di medan perang, Harakka, tanggal 3 Maret 1949 secara tidak manusiawi oleh kebiadaban Tentara Belanda dengan memenggal leher hingga putus. Potongan Kepala ditinggalkan di penjara Barus, dan potongan tubuh lainnya di tanah kelahirannya, Desa Hutagodang yang sekarang telah di pindahkan ke Makam Pahlawan Sibolga.
Riwayatnya demikian. Pasangan suami – istri Raja Pandapotan Pasaribu dan Barita Mopul br. L mempunyai dua anak laki laki yakni Raja Johannes Pasaribu (Yang Saat Sebelum Dibunuh Masih Menjabat Kepala Kampung) dan Bongsu Pasaribu (Yang Saat Sebelum Dibunuh Masih Komandan Harimau Mengganas Tapanuli Berpangkat Kapten) yang lahir pada tanggal 15 Juni 1923, di Desa Hutagodang.
Kedua kakak adik kandung itu gugur di medan perang untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Setelah Kapten Bongsu Pasaribu tewas di penggal, besoknya giliran abangnya, Raja Johannes Pasaribu tewas ditembak persis di kepalanya, setelah ditangkap dan diintrogasi oleh tentara belanda. Mayatnya di makamkan di halaman rumahnya, di Desa Hutagodang hingga sekarang.
Setelah Indonesia merdeka, sayangnya keluarga yang ditinggal pergi oleh kedua kakak adik pahlawan Kemerdekaan itu tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah dan bahkan sejarah kedua pahlawan diabaikan. Karena itulah keluarga yang ditinggalkan, anak, Cucu terus berharap agar ada perhatian dari Pemerintah Pusat dan Daerah agar menepati janjinya membuatkan Tugu Perjuangan ditempat kelahiran sebagai tanda jasa atas kepahlawanan kedua kakak-adik.
Bukti sejarah adalah, kalau mengenal Maraden Panggabean (Purn. Jenderal, yang juga mantan Pangab di orde baru), beliau adalah seperjuangan Kapten Bongsu Pasaribu pada zaman penjajahan Belanda, satu kesatuan di Kesatuan Harimau Mengganas yaitu sebagai Komandan Sektor IV. Sementara dr. Ferdinand Lumban Tobing menjabat sebagai Gubernur Militer Tapanuli.
Jabatan Kapten Bongsu Pasaribu lainnya sebelum agresi Belanda Ke II, yaitu pada zaman penjajahan Jepang. Beliau telah membentuk Angkatan Pemuda dan beliau menjabat sebagai Komandan Kompani hingga berubah namanya saat itu menjadi T.K.R (Tentara Keamanan Rakyat), dengan nama kesatuan sebagai Komandan Harimau Mengganas Tapanuli. Sekitar waktu satu tahun berjalan yaitu pada Tahun 1946, T.K.R berubah nama (dilebur) menjadi namanya adalah T.R.I (Tentara Republik Indonesia) hingga akhirnya TNI.(Tentara Nasional Indonesia).
Pada zaman penjajahan Kolonial Belanda, sangat jarang ada penduduk pribumi yang dapat duduk dibangku sekolah. Bisa dikatakan hanya orang-orang tertentu saja atau anak Kapala Nagari dan para pedagang rempah-rempah. Apalagi untuk bisa mengenyam kejenjang sekolah H.I.S (Hindia Indhise School) kota Sibolga. Rasanya tidak mungkin.
Tetapi beruntunglah Kapten Bongsu pada zaman itu karena memiliki kakak yang bernama Raja Johannes Pasaribu yang baik hati dan tidak mengenal menyerah dalam memperjuangkan adiknya kandungnya itu agar menjadi manusia yang terpandang di masyarakat karena masuk sekolah H.I.S.
Jika hanya berharap dari pekerjaan orangtua yang sebagai petani rasanya tidak tercapai. Selain fisik. Beliau didukung pula dari materiil yang mana kedudukan Raja Johannes Pasaribu pada zaman itu (tanggal 3 Maret Tahun 1932), telah dipilih rakyat Hutagodang sampai kepengangkatan diangkat menjadi pejabat Kepala Kampung Hutagodang. Sehingga Kapten Bongsu yang dikenal sangat pintar, berkepribadian pemimpin dan memiliki bakat, membuat di sekolahnya selalu terdepan. Kepintarannya Kapten Bongsu juga telah dibuktikan dengan tamat sekolah dari H.I.S Sibolga untuk melanjutkan.
Dari H.I.S. Kapten Bongsu masuk sekolah jenjang lebih tinggi pada Quick Shcool di Tarutung (Tapanuli Utara) dan dari Quick Shcool beliau juga tamat sekolah. Setelah mendapat persetujuan kakaknya Raja Johannes, beliau merantau ke kota kembang Bandung (Jawa Barat) untuk sekolah tentara disana. Di Bandung beliau ternyata juga mampu masuk ke Kadester Shcool, hingga bisa tamat. Selanjutnya, setelah penjajah tentara Jepang masuk ke tanah air Indonesia. Oleh sang kakak, Kapten Bongsu disuruh untuk pulang kekampung halaman di Hutagodang (Sibolga). Di Sibolga, tentara Jepang sangat memerlukan tenaga prajurit yang berpengalaman tentara untuk membantu. Maka saat itu Kapten Bongsu terpilih dan oleh tentara Jepang dia dilatih menjadi tentara Gygun dan hingga mulai menyandang pangkat sebagai Gyiusoi (Opsir). Singkat cerita berakhir penjajahan Jepang di negara Indonesia. Pemerintah Republik Indonesia di Jakarta melalui Presiden Soekarno Hatta menyatakan kemerdekanya yang jatuh pada Tanggal 17 Agustus Tahun 1945.
Kapten Bongsu kembali aktif lagi berjuang yaitu pada bulan Nopember Tahun 1945, beliau membentuk Angkatan Pemuda se-kota Sibolga dan dibawah kepemimpinanya.
Saat itu Kapten Bongsu terpilih menjadi pejabat Komandan Kompani 1 (satu) atau Komandan Kesatuan Harimau Mengganas Tapanuli yang namanya saat itu adalah T.K.R (Tentara Keamanan Rakyat). Sekitar waktu satu tahun berjalan yaitu pada Tahun 1946, T.K.R berubah nama (dilebur) menjadi namanya adalah T.R.I (Tentara Republik Indonesia) dan Kapten Bongsu dipercaya menjadi menjabat sebagai Komandan Batalyon II (dua). Hingga akhirnya jabatan Komandan Batalyon II itu diserahterima kepada bernama Marhasam Hutagalung. Sementara itu Kapten Bongsu dipercayakan menjabat sebagai pejabat Staf Resimen III dengan Komandan Pandapotan Sitompul.
Pada zaman itu. Di daerah seluruh Tapanuli telah dijadikan menjadi satu Gubernur yang dipimpin oleh Gubernur Militer bernama Dr. Ferdinan Lumban Tobing.
Sementara untuk pengamanan daerah – daerah keseluruhan Tapanuli, itu dibagi atas berbagai Sektor pertahanan. Puncuk pimpinan atau Komandan Sektor I itu dipegang oleh bernama Bejo, meliputi kekuasaan didaerah Padang Sidempuan (Tapanuli Selatan) wilayah di Muara Sipongi.
Sementara, Komandan Sektor II dipegang bernama Belprit Malau meliputi kekuasaan didaerah Tarutung (Tapanuli Utara), Komandan Sektor III dipegang bernama Slamat Ginting meliputi kekuasaan didaerah Sidingkalang (Tanah Karo), Komanda Sektor IV dipegang bernama Maraden Panggabean meliputi kekuasaan di daerah Sibolga /Aek Raisan, ( Purn. Jenderal masa orde baru), Komandan Sektor S dipegang bernama Simanjuntak dan MA Aritonang meliputi kekuasaan didaerah Sibolga, dan – Mobil Brigade bernama Sabar Gultom meliputi daerah Poriaha. Angresi Ke II Belanda Pada tahun 1947, Negara Belanda kembali melancarkan Agresi yang ke II di tanah air diseluruh pelosok Indonesia. Untuk masuk ke daerah daerah termasuk menjajah Kota Sibolga.
Pejabat tertinggi di Tapanuli waktu itu adalah Gubernur Militer Tapanuli bernama Dr.Ferdinan Lumban Tobing. Dr. Ferdinan Lumban Tobing bersama Komandan Sektor IV bernama Maraden Panggabean (yang sekarang Purn. Jenderal di orde baru) langsung mengistruksikan kepada semua Komandan Raund untuk mengatur pengamanan didaerahnya masing masing. Komandan Sektor IV Maraden Panggabean telah membagi Sektor IV Tapanuli yang dipimpinnya. Maka Kapten Bongsu Pasaribu yang menjadi satu satunya seorang kepercayaan terpanggil dan menjadi Komandan Raund I (kesatuan Harimau Mengganas) untuk daerah kekuasaan di Sorkam dan Barus (Sibolga). Sementara Sinta Pohan ditunjuk sebagai Komandan Raund II untuk wilayah kekuasaan diderah Bonandolok, Komandan Raund III bernama Bangun Siregar untuk kekuasaan diwilayah daerah Sibolga beserta S.M Simarangkir.
Komandan Raund IV bernama Parlindungan Hutagalung ditunjuk didaerah Jalan Tarutung, Komandan Raund V bernama Agus Marpaung untuk kekuasaan diwilayah daerah Poriaha, Komandan Raund VI bernama Henneri Siregar untuk wilayah daerah Jalan Tarutung, Komandan Raund VII bernama Paul Lumban Tobing untuk wilayah daerah Sibolga, Komandan Raund A sebagai pengawal Sektor IV oleh P. Hasibuan , dan Komandan Sektor S, Majit Simanjuntak dan M.A Aritonang untuk wilayah daerah Sibolga dan Barus Keberadaan tentara Belanda pada zaman angresi ke II di kota Sibolga, itu bermula ketika mereka terlebih dahulu melakukan penembakan – penembakan dari jarak jauh melalui pantai lautan Sibolga dengan Kapal Y.T.I Belanda.
Perlawanan sengitpun pecah dengan pasukan tentara pejuang Indonesia hingga berminggu-minggu lamanya. Namun karena alat persenjataan pasukan yang pimpinan Maraden Panggabean terbatas. Pasukan itu terpaksa bersembunyi di hutan untuk menyelamatkan nyawa masing-masing. Akhirnya tentara Kolonial Belanda dapat memenangkan peperangan di Kota Sibolga dan memasuki sudut-sudut kota melalui laut yaitu pada tanggal 24 Desember 1948, itu setelah mereka memukul mundur para pasukan pejuang kemerdekaan Indonesia. Kapten Bongsu Pasaribu dengan pasukannya langsung ditugaskan oleh Komandan Maraden Panggabean zaman itu untuk bergerak menjaga wilayah Barus dan Sorkam sekitarnya. Beliau beserta pasukan berangkatlah menuju daerah Sorkam melalui bukit-bukit hutan hingga meneruskan perjalannya sampai ke Kampung Hutagodang di Kecamatan Sorkam. Kedatangan Komandan Kapten Bongsu dan pasukanya disambut gembira oleh rakyat Hutagodang. Beliau juga menyempatkan diri mengunjungi rumah orangtuanya untuk meminta doa restu dari ibunya.
Disana pasukan beliau membuat satu markas pertahanan yang bernama Hubangan. Dari tempat pertahanan Hubangan, oleh Komandan Kapten Bongsu kembali mengatur semua pasukannya yang mana nama pasukannya itu adalah Kesatuan Harimau Mengganas atau disebut Raund I, Sektor IV. Selanjutnya mereka menuju daerah Sorkam (kecamatan). Karena disana beliau sudah mengetahui bahwa ada keberadaan tentara Belanda. Adapun diantara anggota-anggota kesatuan Hariamau Mengganas adalah bernama, Majit Simanjuntak sebagai wakil, Humehe Rambe (Pengatur Pertahanan). Bernama Gontar Lubis sebagai ajudan dan Staff, Kanor Samosir, Hombar Tambunan, Padet, Jaimi, Tanjung, Mian Tambunan, Mauli Panggabean,
Bili Matondang, Ayat Tarihoran, Panemet Pasaribu, Masin Panggabean, Fliang, Kadi HT, Uruk, Mancur, Mancit, Krisman Marbun, Mahasan Aritonang, Usia Pane, Salmon Nainggolan dan Kartolo Pasaribu. Sementara untuk Seksi Perbekalan diantaranya bernama, Dior Nainggolan, Raja Johanis Pasaribu, Freodolin Purba dan Amit Simatupang yang ada di pasar Sorkam.
Sementara pasukan tentara Belanda yang dipimpin Komandan Van Hali datang dengan membawa tentara Nepis termasuk Simurai dari Kota Sibolga dengan konvoi besar yang hendak mau ke Sorkam untuk bermarkas. Itu setelah mereka berhasil menguasai Sibolga. Sesampainya tentara Belanda dikampung Gontingmahe atau sampai ditengah pertengahan jalan. Pasukan Komandan Kapten Bongsu menghadang atau menghadapi perang dan terjadilah pertempuran I (satu) yang sengit berbuntut menyebar sampai ke perkampungan Parlimatohan. Tetapi disebabkan oleh kurangnya alat persenjataan dan sebaliknya tentara Belanda memiliki senjata yang serba lengkap pasukan Komandan Kapten Bongsu banyak yang gugur.
Di kampung Harakka oleh pasukan Komandan Kapten Bongsu terus melakukan pengejaran hingga terjadilah pertempuran yang dimulai sejak pagi hari sekira Jam 9 sampai siang jam 12. Dapat dikatakan pasukan musuh banyak sekali yang tewas. Bahkan musuh tidak berkutik sama sekali yang akhirnya mereka sebagian terus melarikan diri menyelamatkan nyawa masing masing karena tidak mempunyai daya lagi disebabkan kekurangan perbekalan maupun peluru senjata. Peperangan itu sudah selesai dan tidak ada lagi suara tembakan baik dari Komandan Bongsu, maupun Belanda. Oleh Komanda Kapten Bongsu mengirah semua tentara musuh sudah gugur dan tidak ada lagi yang hidup kecuali yang melarikan diri. Maka Komandan Kapten Bongsu beserta dua orang prajuritnya memutuskan untuk melihat para mayat yang bergelimpangan. Beliau turun mengadakan operasi pembersihan yaitu memeriksa satu persatu mayat tentara musuh akibat dari pertempuran yang hebat itu. Setibanya mereka disana, masih ada dua orang lagi dari tentara Belanda yang masih hidup yang segaja bersembunyi disatu kubangan bekas Kerbau. Dari kubangan kedua tentara Belanda itu ditemani Tajim Sitanggang (mata mata) Belanda.
Melihat posisi Komandan Kapten Bongsu yang sedang berjalan kaki saat itulah tentara belanda yang sembunyi di kubangan langsung melepaskan tembakan kearah Komandan Kapten Bongsu. Peluru senjata api yang dimuntahkan, dengan tembakan bertubi tubi tersebut. Satu peluru akhirnya mengenai kaki Komandan Kapten Bongsu. Baliau langsung tersungkur ke tanah bersimbah darah. Tak puas dengan sampai disitu, kedua tentara musuh kembali memuntahkan peluruh dari senjatanya tepat mengenai kakinya lagi. Komandan Kapten Bongsu masih sempat mengadakan perlawanan dengan membalas menembak dari senjatanya. Akhirnya Kapten Bongsu tidak bisa berkutik lagi. Melihat itu, salah seorang Tentara Belanda terus menembakin.
Tajim (mata mata) kembali memberitahukan kepada kedua tentara Belanda itu, bahwa yang mereka tertembak itu tidak lain adalah Komandan Kesatuan Harimau Mengganas, Kapten Bongsu Pasaribu. Selanjutnya tidak berapa lama tentara Belanda menghampirinya. Tentara itu mengakhiri hidup Komandan Kapten Bongsu dengan cara yang sadis dan tidak manusiawi yaitu dengan memenggal lehernya sampai putus dimana waktu itu pada tanggal 3 Maret 1947. Kepala beliau terpisah dengan badan, lalu diangkat dibawa pergi ke Pasar Barus dipertontonkan kepada rakyat Indonesia. Badannya yang masih tergeletak ditanah sengaja ditinggal tergeletak begitu saja tempat asal dibunuh. Setelah Belanda pergi ke Barus, potongan badan yang lainya yaitu potongan mulai dari leher ke kaki yang masih tergeletak dihutan dijemput oleh pasukan beliau dan dibawah ke kampung Sijungkang, disana potongan badan itu dikuburkan.
Sementara tentara Belanda yang bermarkas di Barus masih terus mempertontonkan potongan kepala Komandan Kapten Bongsu kapada para rakyat dan kepada para tahanan. Yang maksud untuk melemahkan perjuangan pasukan Indonesia di Pasar Barus agar girilyanya melemah. Potongan kepala ditenteng dalam karung itu dimulai markas di Harakka sampai ke Kota Barus. Pada hari yang ketiga, potongan beliau dikuburkanlah di Komplek penjara Barus. Setelah Bongsu Pasaribu gugur pada tanggal 3 Maret 1949. Maka puncuk pimpinan sebagai Komandan Round akhirnya dipegang sementara oleh Humahe Rambe dan kemudian diganti kepada Muliater Simatupang.
Ditulis Oleh : Cucunya, Rekson Hermanto Pasaribu
jalan bongsu pasaribu, kapten 22521, sibolga
08 Sep 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
Kapten Bongsu Pasaribu
SETIAP tanggal 3 Maret, warga Kecamatan Sorkam dan Kecamatan Barus, Kotamadya Sibolga selalu memperingati gugurnya pahlawan Kemerdekaan Nasional asal Sibolga, Kapten Bongsu Pasaribu. Bagi sebagian keluarga anak – cucu veteran ada yang menyempatkan diri mendatangi tempat makan Kapten Bongsu Pasaribu di makam Pahlawan Sibolga. Mereka umumnya menaburkan bunga bunga dan berdoa agar beliau diterima disisi yang maha kuasa. Sementara ditempat kelahiran Kapten Bongsu dilahirkan, warga setempat pada tanggal itu merayakannya dengan membuat acara drama yang diprankan oleh anak anak muda di rumah rumah para veteran. Suasanya terlihat seperti nyata menirukan perjalan sejarah dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Untuk setiap tanggal 17 Agustus, Bupati Sibolga sering menyempatkan diri menemui keluarga almarhum. Terbukti pada 17 agustus lalu, bupati sibolga memberikan penghargaan melalui para cucu, anak -anaknya.
Ceritanya demikian, pasangan suami – istri Raja Pandapotan Pasaribu dan Barita Mopul br. L mempunyai dua anak laki laki yakni Raja Johannes Pasaribu (Kepala Desa Suga – Suga Hutagodang, Sibolga) dan Bongsu Pasaribu (Berpangkat Kapten – Komandan Batalyon Harimau Menggganas Tapanuli). Keduanya gugur dimedan perang untuk mempertahankan Kemerdekaan dibunuh secara sadis oleh tentara kolonial belanda. Setelah Indonesia merdeka, anak, Cucu dan para Veteran Indonesia yang ditinggal, terus berharap agar ada perhatian dari Pemerintah Pusat dan Daerah agar menepati janjinya untuk membuatkan Tugu Perjuangan ditempat kelahira sebagai tanda jasa atas kepahlawanannya.
Inilah riwayat beliau, kalau mengenal Maraden Panggabean (Purn. Jenderal, yang juga mantan Pangab di orde baru) beliau adalah juga mantan seperjuangan Kapten Bongsu Pasaribu pada zaman itu yaitu satu kesatuan di Kesatuan Harimau Mengganas yaitu sebagai Komandan Sektor IV. Sementara dr. Ferdinand Lumban Tobing ( Pahlawan Kemerdekaan Nasional) zaman itu menjabat sebagai Gubernur Militer Tapanuli. Kalau belum tahu sejarahnya siapa Kapten Bongsu Pasaribu seorang Pejuang Nasional dalam mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Beliaulah orangnya yang lehernya dipenggal (digorok) secara sangat sadis dan tidak manusiawi oleh tentara Kolonial Belanda di Harakka, Barus pada tanggal 3 Maret 1947 yaitu pada saat pecah angresi Militer Belanda ke II.
Jabatan Kapten Bongsu Pasaribu lainnya sebelum agresi Belanda, yaitu pada zaman penjajahan Jepang. Beliau telah membentuk Angkatan Pemuda dan beliau menjabat sebagai Komandan Kompani yang namanya saat itu adalah T.K.R (Tentara Keamanan Rakyat). Sekitar waktu satu tahun berjalan yaitu pada Tahun 1946, T.K.R berubah nama (dilebur) menjadi namanya adalah T.R.I (Tentara Republik Indonesia) hingga akhirnya TNI.(Tentara Nasional Indonesia). Kapten Bongsu Pasaribu lahir diperkampungan yang bernama Hutagodang yang jaraknya 25 kilometer dari pusat Kota Sibolga (Tapanuli Tengah), anak dari perkawinan pasangan Raja Pandapotan Pasaribu dengan Ibunya bernama Barita Mopul br. L pada tanggal 15 Juni 1923. Pada zaman penjajahan Kolonial Belanda, sangat jarang ada penduduk pribumi yang dapat duduk dibangku sekolah. Bisa dikatakan hanya orang-orang tertentu saja atau anak Kapala Nagari dan para pedagang rempah-rempah. Apalagi untuk bisa mengenyam kejenjang sekolah H.I.S (Hindia Indhise School) kota Sibolga. Rasanya tidak mungkin.
Tetapi beruntunglah Kapten Bongsu pada zaman itu karena memiliki kakak yang bernama Raja Johannes Pasaribu yang baik hati dan tidak mengenal menyerah dalam memperjuangkan adiknya kandungnya itu agar menjadi manusia yang terpandang di masyarakat karena masuk sekolah H.I.S. Jika hanya berharap dari pekerjaan orangtua yang sebagai petani rasanya tidak tercapai. Selain fisik. Beliau didukung pula dari materiil yang mana kedudukan Raja Johannes Pasaribu pada zaman itu (tanggal 3 Maret Tahun 1932), telah dipilih rakyat Hutagodang sampai kepengangkatan diangkat menjadi pejabat Kepala Kampung Hutagodang. Sehingga Kapten Bongsu yang dikenal sangat pintar, berkepribadian pemimpin dan memiliki bakat, membuat di sekolahnya selalu terdepan. Kepintarannya Kapten Bongsu juga telah dibuktikan dengan tamat sekolah dari H.I.S Sibolga untuk melanjutkan.
Dari H.I.S. Kapten Bongsu masuk sekolah jenjang lebih tinggi pada Quick Shcool di Tarutung (Tapanuli Utara) dan dari Quick Shcool beliau juga tamat sekolah. Setelah mendapat persetujuan kakaknya Raja Johannes, beliau merantau ke kota kembang Bandung (Jawa Barat) untuk sekolah tentara disana. Di Bandung beliau ternyata juga mampu masuk ke Kadester Shcool, hingga bisa tamat. Selanjutnya, setelah penjajah tentara Jepang masuk ke tanah air Indonesia. Oleh sang kakak, Kapten Bongsu disuruh untuk pulang kekampung halaman di Hutagodang (Sibolga). Di Sibolga, tentara Jepang sangat memerlukan tenaga prajurit yang berpengalaman tentara untuk membantu. Maka saat itu Kapten Bongsu terpilih dan oleh tentara Jepang dia dilatih menjadi tentara Gygun dan hingga mulai menyandang pangkat sebagai Gyiusoi (Opsir). Singkat cerita berakhir penjajahan Jepang di negara Indonesia. Pemerintah Republik Indonesia di Jakarta melalui Presiden Soekarno Hatta menyatakan kemerdekanya yang jatuh pada Tanggal 17 Agustus Tahun 1945. Kapten Bongsu kembali aktif lagi berjuang yaitu pada bulan Nopember Tahun 1945, beliau membentuk Angkatan Pemuda se-kota Sibolga dan dibawah kepemimpinanya.
Saat itu Kapten Bongsu terpilih menjadi pejabat Komandan Kompani 1 (satu) yang namanya saat itu adalah T.K.R (Tentara Keamanan Rakyat). Sekitar waktu satu tahun berjalan yaitu pada Tahun 1946, T.K.R berubah nama (dilebur) menjadi namanya adalah T.R.I (Tentara Republik Indonesia) dan Kapten Bongsu dipercaya menjadi menjabat sebagai Komandan Batalyon II (dua). Hingga akhirnya jabatan Komandan Batalyon II itu diserahterima kepada bernama Marhasam Hutagalung. Sementara itu Kapten Bongsu dipercayakan menjabat sebagai pejabat Staf Resimen III dengan Komandan Pandapotan Sitompul.
Pada zaman itu. Di daerah seluruh Tapanuli telah dijadikan menjadi satu Gubernur yang dipimpin oleh Gubernur Militer bernama Dr. Ferdinan Lumban Tobing.
Sementara untuk pengamanan daerah – daerah keseluruhan Tapanuli, itu dibagi atas berbagai Sektor pertahanan. Puncuk pimpinan atau Komandan Sektor I itu dipegang oleh bernama Bejo, meliputi kekuasaan didaerah Padang Sidempuan (Tapanuli Selatan) wilayah di Muara Sipongi.
Sementara, Komandan Sektor II dipegang bernama Belprit Malau meliputi kekuasaan didaerah Tarutung (Tapanuli Utara), Komandan Sektor III dipegang bernama Slamat Ginting meliputi kekuasaan didaerah Sidingkalang (Tanah Karo), Komanda Sektor IV dipegang bernama Maraden Panggabean meliputi kekuasaan di daerah Sibolga /Aek Raisan, ( Purn. Jenderal masa orde baru), Komandan Sektor S dipegang bernama Simanjuntak dan MA Aritonang meliputi kekuasaan didaerah Sibolga, dan – Mobil Brigade bernama Sabar Gultom meliputi daerah Poriaha. Angresi Ke II Belanda Pada tahun 1947, Negara Belanda kembali melancarkan Agresi yang ke II di tanah air diseluruh pelosok Indonesia. Untuk masuk ke daerah daerah termasuk menjajah Kota Sibolga.
Pejabat tertinggi di Tapanuli waktu itu adalah Gubernur Militer Tapanuli bernama Dr.Ferdinan Lumban Tobing. Dr. Ferdinan Lumban Tobing bersama Komandan Sektor IV bernama Maraden Panggabean (yang sekarang Purn. Jenderal di orde baru) langsung mengistruksikan kepada semua Komandan Raund untuk mengatur pengamanan didaerahnya masing masing. Komandan Sektor IV Maraden Panggabean telah membagi Sektor IV Tapanuli yang dipimpinnya. Maka Kapten Bongsu Pasaribu yang menjadi satu satunya seorang kepercayaan terpanggil dan menjadi Komandan Raund I (kesatuan Harimau Mengganas) untuk daerah kekuasaan di Sorkam dan Barus (Sibolga). Sementara Sinta Pohan ditunjuk sebagai Komandan Raund II untuk wilayah kekuasaan diderah Bonandolok, Komandan Raund III bernama Bangun Siregar untuk kekuasaan diwilayah daerah Sibolga beserta S.M Simarangkir.
Komandan Raund IV bernama Parlindungan Hutagalung ditunjuk didaerah Jalan Tarutung, Komandan Raund V bernama Agus Marpaung untuk kekuasaan diwilayah daerah Poriaha, Komandan Raund VI bernama Henneri Siregar untuk wilayah daerah Jalan Tarutung, Komandan Raund VII bernama Paul Lumban Tobing untuk wilayah daerah Sibolga, Komandan Raund A sebagai pengawal Sektor IV oleh P. Hasibuan , dan Komandan Sektor S, Majit Simanjuntak dan M.A Aritonang untuk wilayah daerah Sibolga dan Barus Keberadaan tentara Belanda pada zaman angresi ke II di kota Sibolga, itu bermula ketika mereka terlebih dahulu melakukan penembakan – penembakan dari jarak jauh melalui pantai lautan Sibolga dengan Kapal Y.T.I Belanda.
Perlawanan sengitpun pecah dengan pasukan tentara pejuang Indonesia hingga berminggu-minggu lamanya. Namun karena alat persenjataan pasukan yang pimpinan Maraden Panggabean terbatas. Pasukan itu terpaksa bersembunyi di hutan untuk menyelamatkan nyawa masing-masing. Akhirnya tentara Kolonial Belanda dapat memenangkan peperangan di Kota Sibolga dan memasuki sudut-sudut kota melalui laut yaitu pada tanggal 24 Desember 1948, itu setelah mereka memukul mundur para pasukan pejuang kemerdekaan Indonesia. Kapten Bongsu Pasaribu dengan pasukannya langsung ditugaskan oleh Komandan
tertingginya Maraden Panggabean zaman itu untuk bergerak menjaga wilayah Barus dan Sorkam sekitarnya. Beliau beserta pasukan berangkatlah menuju daerah Sorkam melalui bukit-bukit hutan hingga meneruskan perjalannya sampai ke Kampung Hutagodang di Kecamatan Sorkam. Kedatangan Komandan Kapten Bongsu dan pasukanya disambut gembira oleh rakyat Hutagodang. Beliau juga menyempatkan diri mengunjungi rumah orangtuanya untuk meminta doa restu dari ibunya.
Disana pasukan beliau membuat satu markas pertahanan yang bernama Hubangan. Dari tempat pertahanan Hubangan, oleh Komandan Kapten Bongsu kembali mengatur semua pasukannya yang mana nama pasukannya itu adalah Kesatuan Harimau Mengganas atau disebut Raund I, Sektor IV. Selanjutnya mereka menuju daerah Sorkam (kecamatan). Karena disana beliau sudah mengetahui bahwa ada keberadaan tentara Belanda. Adapun diantara anggota-anggota kesatuan Hariamau Mengganas adalah bernama, Majit Simanjuntak sebagai wakil, Humehe Rambe (Pengatur Pertahanan). Bernama Gontar Lubis sebagai ajudan dan Staff, Kanor Samosir, Hombar Tambunan, Padet, Jaimi, Tanjung, Mian Tambunan, Mauli Panggabean,
Bili Matondang, Ayat Tarihoran, Panemet Pasaribu, Masin Panggabean, Fliang, Kadi HT, Uruk, Mancur, Mancit, Krisman Marbun, Mahasan Aritonang, Usia Pane, Salmon Nainggolan dan Kartolo Pasaribu. Sementara untuk Seksi Perbekalan diantaranya bernama, Dior Nainggolan, Raja Johanis Pasaribu, Freodolin Purba dan Amit Simatupang yang ada di pasar Sorkam.
Sementara pasukan tentara Belanda yang dipimpin Komandan Van Hali datang dengan membawa tentara Nepis termasuk Simurai dari Kota Sibolga dengan konvoi besar yang hendak mau ke Sorkam untuk bermarkas. Itu setelah mereka berhasil menguasai Sibolga. Sesampainya tentara Belanda dikampung Gontingmahe atau sampai ditengah pertengahan jalan. Pasukan Komandan Kapten Bongsu menghadang atau menghadapi perang dan terjadilah pertempuran I (satu) yang sengit berbuntut menyebar sampai ke perkampungan Parlimatohan. Tetapi disebabkan oleh kurangnya alat persenjataan dan sebaliknya tentara Belanda memiliki senjata yang serba lengkap pasukan Komandan Kapten Bongsu banyak yang gugur.
Karena selama operasi operasi ke kampung kampung sering dipatahkan oleh pasukan Komandan Kapten Bongsu. Maka oleh Belanda memperkuat banyak mata mata ( kaki tangan) yang tersebar di Tapanuli. Untuk didaerah Barus dan Sorkam, mata matanya bernama Tajim S yang berasal dari Polisi Belanda. Namun beliau juga mengetahui bahwa Tajim Sitanggang terlibat jadi mata mata. Maka oleh Komandan Kapten Bongsu memerintahkan beberapa pasukanya untuk memburu Tajim. Hingga suatu hari Tajim berhasil disergap dirumah penduduk. Tajimpun dibawa ke markas untuk mengadakan pemeriksaan. Disana Tajim diancam yaitu diberikan keputusan hukuman yang isinya kalau ketahuan berbuat lagi, saya akan melakukan hukuman nyawa harus dibalas dan diganti nyawa, kata Komandan Kapten Bongsu. Rupanya peringatan itu tidak digubrisnya Tajim atau tidak diperdulikannya. Bahkan Tajim malahan melarikan diri dan ikut bergabung lagi dengan pasukan tentara Belanda di Pasar Barus.
Di kampung Harakka oleh pasukan Komandan Kapten Bongsu terus melakukan pengejaran hingga terjadilah pertempuran yang dimulai sejak pagi hari sekira Jam 9 sampai siang jam 12. Dapat dikatakan pasukan musuh banyak sekali yang tewas. Bahkan musuh tidak berkutik sama sekali yang akhirnya mereka sebagian terus melarikan diri menyelamatkan nyawa masing masing karena tidak mempunyai daya lagi disebabkan kekurangan perbekalan maupun peluru senjata. Peperangan itu sudah selesai dan tidak ada lagi suara tembakan baik dari Komandan Bongsu, maupun Belanda. Oleh Komanda Kapten Bongsu mengirah semua tentara musuh sudah gugur dan tidak ada lagi yang hidup kecuali yang melarikan diri. Maka Komandan Kapten Bongsu beserta dua orang prajuritnya memutuskan untuk melihat para mayat yang bergelimpangan. Beliau turun mengadakan operasi pembersihan yaitu memeriksa satu persatu mayat tentara musuh akibat dari pertempuran yang hebat itu. Setibanya mereka disana, masih ada dua orang lagi dari tentara Belanda yang masih hidup yang segaja bersembunyi disatu kubangan bekas Kerbau. Dari kubangan kedua tentara Belanda itu ditemani Tajim Sitanggang (mata mata) Belanda.
Melihat posisi Komandan Kapten Bongsu yang sedang berjalan kaki saat itulah tentara belanda yang sembunyi di kubangan langsung melepaskan tembakan kearah Komandan Kapten Bongsu. Peluru senjata api yang dimuntahkan, dengan tembakan bertubi tubi tersebut. Satu peluru akhirnya mengenai kaki Komandan Kapten Bongsu. Baliau langsung tersungkur ke tanah bersimbah darah. Tak puas dengan sampai disitu, kedua tentara musuh kembali memuntahkan peluruh dari senjatanya tepat mengenai kakinya lagi. Komandan Kapten Bongsu masih sempat mengadakan perlawanan dengan membalas menembak dari senjatanya. Akhirnya Kapten Bongsu tidak bisa berkutik lagi. Melihat itu, salah seorang Tentara Belanda terus menembakin.
Tajim (mata mata) kembali memberitahukan kepada kedua tentara Belanda itu, bahwa yang mereka tertembak itu tidak lain adalah Komandan Kesatuan Harimau Mengganas, Kapten Bongsu Pasaribu. Selanjutnya tidak berapa lama tentara Belanda menghampirinya. Tentara itu mengakhiri hidup Komandan Kapten Bongsu dengan cara yang sadis dan tidak manusiawi yaitu dengan memenggal lehernya sampai putus dimana waktu itu pada tanggal 3 Maret 1947. Kepala beliau terpisah dengan badan, lalu diangkat dibawa pergi ke Pasar Barus dipertontonkan kepada rakyat Indonesia. Badannya yang masih tergeletak ditanah sengaja ditinggal tergeletak begitu saja tempat asal dibunuh. Setelah Belanda pergi ke Barus, potongan badan yang lainya yaitu potongan mulai dari leher ke kaki yang masih tergeletak dihutan dijemput oleh pasukan beliau dan dibawah ke kampung Sijungkang, disana potongan badan itu dikuburkan.
Sementara tentara Belanda yang bermarkas di Barus masih terus mempertontonkan potongan kepala Komandan Kapten Bongsu kapada para rakyat dan kepada para tahanan. Yang maksud untuk melemahkan perjuangan pasukan Indonesia di Pasar Barus agar girilyanya melemah. Potongan kepala ditenteng dalam karung itu dimulai markas di Harakka sampai ke Kota Barus. Pada hari yang ketiga, potongan beliau dikuburkanlah di Komplek penjara Barus. Setelah Bongsu Pasaribu gugur pada tanggal 3 Maret 1949. Maka puncuk pimpinan sebagai Komandan Round akhirnya dipegang sementara oleh Humahe Rambe dan kemudian diganti kepada Muliater Simatupang.
Ditulis Oleh : Cucunya, Rekson Hermanto Pasaribu
Jln. Bongsu Pasaribu, Kapten, 22521, Sibolga.
08 Sep 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
Kapten Bongsu Pasaribu
SETIAP tanggal 3 Maret, warga Kecamatan Sorkam dan Kecamatan Barus, Kotamadya Sibolga selalu memperingati gugurnya pahlawan Kemerdekaan Nasional asal Sibolga, Kapten Bongsu Pasaribu. Bagi sebagian keluarga anak – cucu veteran ada yang menyempatkan diri mendatangi tempat makan Kapten Bongsu Pasaribu di makam Pahlawan Sibolga. Mereka umumnya menaburkan bunga bunga dan berdoa agar beliau diterima disisi yang maha kuasa. Sementara ditempat kelahiran Kapten Bongsu dilahirkan, warga setempat pada tanggal itu merayakannya dengan membuat acara drama yang diprankan oleh anak anak muda di rumah rumah para veteran. Suasanya terlihat seperti nyata menirukan perjalan sejarah dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Untuk setiap tanggal 17 Agustus, Bupati Sibolga sering menyempatkan diri menemui keluarga almarhum. Terbukti pada 17 agustus lalu, bupati sibolga memberikan penghargaan melalui para cucu, anak -anaknya.
Ceritanya demikian, pasangan suami – istri Raja Pandapotan Pasaribu dan Barita Mopul br. L mempunyai dua anak laki laki yakni Raja Johannes Pasaribu (Kepala Desa Suga – Suga Hutagodang, Sibolga) dan Bongsu Pasaribu (Berpangkat Kapten – Komandan Batalyon Harimau Menggganas Tapanuli). Keduanya gugur dimedan perang untuk mempertahankan Kemerdekaan dibunuh secara sadis oleh tentara kolonial belanda. Setelah Indonesia merdeka, anak, Cucu dan para Veteran Indonesia yang ditinggal, terus berharap agar ada perhatian dari Pemerintah Pusat dan Daerah agar menepati janjinya untuk membuatkan Tugu Perjuangan ditempat kelahira sebagai tanda jasa atas kepahlawanannya.
Inilah riwayat beliau, kalau mengenal Maraden Panggabean (Purn. Jenderal, yang juga mantan Pangab di orde baru) beliau adalah juga mantan seperjuangan Kapten Bongsu Pasaribu pada zaman itu yaitu satu kesatuan di Kesatuan Harimau Mengganas yaitu sebagai Komandan Sektor IV. Sementara dr. Ferdinand Lumban Tobing ( Pahlawan Kemerdekaan Nasional) zaman itu menjabat sebagai Gubernur Militer Tapanuli. Kalau belum tahu sejarahnya siapa Kapten Bongsu Pasaribu seorang Pejuang Nasional dalam mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Beliaulah orangnya yang lehernya dipenggal (digorok) secara sangat sadis dan tidak manusiawi oleh tentara Kolonial Belanda di Harakka, Barus pada tanggal 3 Maret 1947 yaitu pada saat pecah angresi Militer Belanda ke II.
Jabatan Kapten Bongsu Pasaribu lainnya sebelum agresi Belanda, yaitu pada zaman penjajahan Jepang. Beliau telah membentuk Angkatan Pemuda dan beliau menjabat sebagai Komandan Kompani yang namanya saat itu adalah T.K.R (Tentara Keamanan Rakyat). Sekitar waktu satu tahun berjalan yaitu pada Tahun 1946, T.K.R berubah nama (dilebur) menjadi namanya adalah T.R.I (Tentara Republik Indonesia) hingga akhirnya TNI.(Tentara Nasional Indonesia). Kapten Bongsu Pasaribu lahir diperkampungan yang bernama Hutagodang yang jaraknya 25 kilometer dari pusat Kota Sibolga (Tapanuli Tengah), anak dari perkawinan pasangan Raja Pandapotan Pasaribu dengan Ibunya bernama Barita Mopul br. L pada tanggal 15 Juni 1923. Pada zaman penjajahan Kolonial Belanda, sangat jarang ada penduduk pribumi yang dapat duduk dibangku sekolah. Bisa dikatakan hanya orang-orang tertentu saja atau anak Kapala Nagari dan para pedagang rempah-rempah. Apalagi untuk bisa mengenyam kejenjang sekolah H.I.S (Hindia Indhise School) kota Sibolga. Rasanya tidak mungkin.
Tetapi beruntunglah Kapten Bongsu pada zaman itu karena memiliki kakak yang bernama Raja Johannes Pasaribu yang baik hati dan tidak mengenal menyerah dalam memperjuangkan adiknya kandungnya itu agar menjadi manusia yang terpandang di masyarakat karena masuk sekolah H.I.S. Jika hanya berharap dari pekerjaan orangtua yang sebagai petani rasanya tidak tercapai. Selain fisik. Beliau didukung pula dari materiil yang mana kedudukan Raja Johannes Pasaribu pada zaman itu (tanggal 3 Maret Tahun 1932), telah dipilih rakyat Hutagodang sampai kepengangkatan diangkat menjadi pejabat Kepala Kampung Hutagodang. Sehingga Kapten Bongsu yang dikenal sangat pintar, berkepribadian pemimpin dan memiliki bakat, membuat di sekolahnya selalu terdepan. Kepintarannya Kapten Bongsu juga telah dibuktikan dengan tamat sekolah dari H.I.S Sibolga untuk melanjutkan.
Dari H.I.S. Kapten Bongsu masuk sekolah jenjang lebih tinggi pada Quick Shcool di Tarutung (Tapanuli Utara) dan dari Quick Shcool beliau juga tamat sekolah. Setelah mendapat persetujuan kakaknya Raja Johannes, beliau merantau ke kota kembang Bandung (Jawa Barat) untuk sekolah tentara disana. Di Bandung beliau ternyata juga mampu masuk ke Kadester Shcool, hingga bisa tamat. Selanjutnya, setelah penjajah tentara Jepang masuk ke tanah air Indonesia. Oleh sang kakak, Kapten Bongsu disuruh untuk pulang kekampung halaman di Hutagodang (Sibolga). Di Sibolga, tentara Jepang sangat memerlukan tenaga prajurit yang berpengalaman tentara untuk membantu. Maka saat itu Kapten Bongsu terpilih dan oleh tentara Jepang dia dilatih menjadi tentara Gygun dan hingga mulai menyandang pangkat sebagai Gyiusoi (Opsir). Singkat cerita berakhir penjajahan Jepang di negara Indonesia. Pemerintah Republik Indonesia di Jakarta melalui Presiden Soekarno Hatta menyatakan kemerdekanya yang jatuh pada Tanggal 17 Agustus Tahun 1945. Kapten Bongsu kembali aktif lagi berjuang yaitu pada bulan Nopember Tahun 1945, beliau membentuk Angkatan Pemuda se-kota Sibolga dan dibawah kepemimpinanya.
Saat itu Kapten Bongsu terpilih menjadi pejabat Komandan Kompani 1 (satu) yang namanya saat itu adalah T.K.R (Tentara Keamanan Rakyat). Sekitar waktu satu tahun berjalan yaitu pada Tahun 1946, T.K.R berubah nama (dilebur) menjadi namanya adalah T.R.I (Tentara Republik Indonesia) dan Kapten Bongsu dipercaya menjadi menjabat sebagai Komandan Batalyon II (dua). Hingga akhirnya jabatan Komandan Batalyon II itu diserahterima kepada bernama Marhasam Hutagalung. Sementara itu Kapten Bongsu dipercayakan menjabat sebagai pejabat Staf Resimen III dengan Komandan Pandapotan Sitompul.
Pada zaman itu. Di daerah seluruh Tapanuli telah dijadikan menjadi satu Gubernur yang dipimpin oleh Gubernur Militer bernama Dr. Ferdinan Lumban Tobing.
Sementara untuk pengamanan daerah – daerah keseluruhan Tapanuli, itu dibagi atas berbagai Sektor pertahanan. Puncuk pimpinan atau Komandan Sektor I itu dipegang oleh bernama Bejo, meliputi kekuasaan didaerah Padang Sidempuan (Tapanuli Selatan) wilayah di Muara Sipongi.
Sementara, Komandan Sektor II dipegang bernama Belprit Malau meliputi kekuasaan didaerah Tarutung (Tapanuli Utara), Komandan Sektor III dipegang bernama Slamat Ginting meliputi kekuasaan didaerah Sidingkalang (Tanah Karo), Komanda Sektor IV dipegang bernama Maraden Panggabean meliputi kekuasaan di daerah Sibolga /Aek Raisan, ( Purn. Jenderal masa orde baru), Komandan Sektor S dipegang bernama Simanjuntak dan MA Aritonang meliputi kekuasaan didaerah Sibolga, dan – Mobil Brigade bernama Sabar Gultom meliputi daerah Poriaha. Angresi Ke II Belanda Pada tahun 1947, Negara Belanda kembali melancarkan Agresi yang ke II di tanah air diseluruh pelosok Indonesia. Untuk masuk ke daerah daerah termasuk menjajah Kota Sibolga.
Pejabat tertinggi di Tapanuli waktu itu adalah Gubernur Militer Tapanuli bernama Dr.Ferdinan Lumban Tobing. Dr. Ferdinan Lumban Tobing bersama Komandan Sektor IV bernama Maraden Panggabean (yang sekarang Purn. Jenderal di orde baru) langsung mengistruksikan kepada semua Komandan Raund untuk mengatur pengamanan didaerahnya masing masing. Komandan Sektor IV Maraden Panggabean telah membagi Sektor IV Tapanuli yang dipimpinnya. Maka Kapten Bongsu Pasaribu yang menjadi satu satunya seorang kepercayaan terpanggil dan menjadi Komandan Raund I (kesatuan Harimau Mengganas) untuk daerah kekuasaan di Sorkam dan Barus (Sibolga). Sementara Sinta Pohan ditunjuk sebagai Komandan Raund II untuk wilayah kekuasaan diderah Bonandolok, Komandan Raund III bernama Bangun Siregar untuk kekuasaan diwilayah daerah Sibolga beserta S.M Simarangkir.
Komandan Raund IV bernama Parlindungan Hutagalung ditunjuk didaerah Jalan Tarutung, Komandan Raund V bernama Agus Marpaung untuk kekuasaan diwilayah daerah Poriaha, Komandan Raund VI bernama Henneri Siregar untuk wilayah daerah Jalan Tarutung, Komandan Raund VII bernama Paul Lumban Tobing untuk wilayah daerah Sibolga, Komandan Raund A sebagai pengawal Sektor IV oleh P. Hasibuan , dan Komandan Sektor S, Majit Simanjuntak dan M.A Aritonang untuk wilayah daerah Sibolga dan Barus Keberadaan tentara Belanda pada zaman angresi ke II di kota Sibolga, itu bermula ketika mereka terlebih dahulu melakukan penembakan – penembakan dari jarak jauh melalui pantai lautan Sibolga dengan Kapal Y.T.I Belanda.
Perlawanan sengitpun pecah dengan pasukan tentara pejuang Indonesia hingga berminggu-minggu lamanya. Namun karena alat persenjataan pasukan yang pimpinan Maraden Panggabean terbatas. Pasukan itu terpaksa bersembunyi di hutan untuk menyelamatkan nyawa masing-masing. Akhirnya tentara Kolonial Belanda dapat memenangkan peperangan di Kota Sibolga dan memasuki sudut-sudut kota melalui laut yaitu pada tanggal 24 Desember 1948, itu setelah mereka memukul mundur para pasukan pejuang kemerdekaan Indonesia. Kapten Bongsu Pasaribu dengan pasukannya langsung ditugaskan oleh Komandan
tertingginya Maraden Panggabean zaman itu untuk bergerak menjaga wilayah Barus dan Sorkam sekitarnya. Beliau beserta pasukan berangkatlah menuju daerah Sorkam melalui bukit-bukit hutan hingga meneruskan perjalannya sampai ke Kampung Hutagodang di Kecamatan Sorkam. Kedatangan Komandan Kapten Bongsu dan pasukanya disambut gembira oleh rakyat Hutagodang. Beliau juga menyempatkan diri mengunjungi rumah orangtuanya untuk meminta doa restu dari ibunya.
Disana pasukan beliau membuat satu markas pertahanan yang bernama Hubangan. Dari tempat pertahanan Hubangan, oleh Komandan Kapten Bongsu kembali mengatur semua pasukannya yang mana nama pasukannya itu adalah Kesatuan Harimau Mengganas atau disebut Raund I, Sektor IV. Selanjutnya mereka menuju daerah Sorkam (kecamatan). Karena disana beliau sudah mengetahui bahwa ada keberadaan tentara Belanda. Adapun diantara anggota-anggota kesatuan Hariamau Mengganas adalah bernama, Majit Simanjuntak sebagai wakil, Humehe Rambe (Pengatur Pertahanan). Bernama Gontar Lubis sebagai ajudan dan Staff, Kanor Samosir, Hombar Tambunan, Padet, Jaimi, Tanjung, Mian Tambunan, Mauli Panggabean,
Bili Matondang, Ayat Tarihoran, Panemet Pasaribu, Masin Panggabean, Fliang, Kadi HT, Uruk, Mancur, Mancit, Krisman Marbun, Mahasan Aritonang, Usia Pane, Salmon Nainggolan dan Kartolo Pasaribu. Sementara untuk Seksi Perbekalan diantaranya bernama, Dior Nainggolan, Raja Johanis Pasaribu, Freodolin Purba dan Amit Simatupang yang ada di pasar Sorkam.
Sementara pasukan tentara Belanda yang dipimpin Komandan Van Hali datang dengan membawa tentara Nepis termasuk Simurai dari Kota Sibolga dengan konvoi besar yang hendak mau ke Sorkam untuk bermarkas. Itu setelah mereka berhasil menguasai Sibolga. Sesampainya tentara Belanda dikampung Gontingmahe atau sampai ditengah pertengahan jalan. Pasukan Komandan Kapten Bongsu menghadang atau menghadapi perang dan terjadilah pertempuran I (satu) yang sengit berbuntut menyebar sampai ke perkampungan Parlimatohan. Tetapi disebabkan oleh kurangnya alat persenjataan dan sebaliknya tentara Belanda memiliki senjata yang serba lengkap pasukan Komandan Kapten Bongsu banyak yang gugur.
Karena selama operasi operasi ke kampung kampung sering dipatahkan oleh pasukan Komandan Kapten Bongsu. Maka oleh Belanda memperkuat banyak mata mata ( kaki tangan) yang tersebar di Tapanuli. Untuk didaerah Barus dan Sorkam, mata matanya bernama Tajim S yang berasal dari Polisi Belanda. Namun beliau juga mengetahui bahwa Tajim Sitanggang terlibat jadi mata mata. Maka oleh Komandan Kapten Bongsu memerintahkan beberapa pasukanya untuk memburu Tajim. Hingga suatu hari Tajim berhasil disergap dirumah penduduk. Tajimpun dibawa ke markas untuk mengadakan pemeriksaan. Disana Tajim diancam yaitu diberikan keputusan hukuman yang isinya kalau ketahuan berbuat lagi, saya akan melakukan hukuman nyawa harus dibalas dan diganti nyawa, kata Komandan Kapten Bongsu. Rupanya peringatan itu tidak digubrisnya Tajim atau tidak diperdulikannya. Bahkan Tajim malahan melarikan diri dan ikut bergabung lagi dengan pasukan tentara Belanda di Pasar Barus.
Di kampung Harakka oleh pasukan Komandan Kapten Bongsu terus melakukan pengejaran hingga terjadilah pertempuran yang dimulai sejak pagi hari sekira Jam 9 sampai siang jam 12. Dapat dikatakan pasukan musuh banyak sekali yang tewas. Bahkan musuh tidak berkutik sama sekali yang akhirnya mereka sebagian terus melarikan diri menyelamatkan nyawa masing masing karena tidak mempunyai daya lagi disebabkan kekurangan perbekalan maupun peluru senjata. Peperangan itu sudah selesai dan tidak ada lagi suara tembakan baik dari Komandan Bongsu, maupun Belanda. Oleh Komanda Kapten Bongsu mengirah semua tentara musuh sudah gugur dan tidak ada lagi yang hidup kecuali yang melarikan diri. Maka Komandan Kapten Bongsu beserta dua orang prajuritnya memutuskan untuk melihat para mayat yang bergelimpangan. Beliau turun mengadakan operasi pembersihan yaitu memeriksa satu persatu mayat tentara musuh akibat dari pertempuran yang hebat itu. Setibanya mereka disana, masih ada dua orang lagi dari tentara Belanda yang masih hidup yang segaja bersembunyi disatu kubangan bekas Kerbau. Dari kubangan kedua tentara Belanda itu ditemani Tajim Sitanggang (mata mata) Belanda.
Melihat posisi Komandan Kapten Bongsu yang sedang berjalan kaki saat itulah tentara belanda yang sembunyi di kubangan langsung melepaskan tembakan kearah Komandan Kapten Bongsu. Peluru senjata api yang dimuntahkan, dengan tembakan bertubi tubi tersebut. Satu peluru akhirnya mengenai kaki Komandan Kapten Bongsu. Baliau langsung tersungkur ke tanah bersimbah darah. Tak puas dengan sampai disitu, kedua tentara musuh kembali memuntahkan peluruh dari senjatanya tepat mengenai kakinya lagi. Komandan Kapten Bongsu masih sempat mengadakan perlawanan dengan membalas menembak dari senjatanya. Akhirnya Kapten Bongsu tidak bisa berkutik lagi. Melihat itu, salah seorang Tentara Belanda terus menembakin.
Tajim (mata mata) kembali memberitahukan kepada kedua tentara Belanda itu, bahwa yang mereka tertembak itu tidak lain adalah Komandan Kesatuan Harimau Mengganas, Kapten Bongsu Pasaribu. Selanjutnya tidak berapa lama tentara Belanda menghampirinya. Tentara itu mengakhiri hidup Komandan Kapten Bongsu dengan cara yang sadis dan tidak manusiawi yaitu dengan memenggal lehernya sampai putus dimana waktu itu pada tanggal 3 Maret 1947. Kepala beliau terpisah dengan badan, lalu diangkat dibawa pergi ke Pasar Barus dipertontonkan kepada rakyat Indonesia. Badannya yang masih tergeletak ditanah sengaja ditinggal tergeletak begitu saja tempat asal dibunuh. Setelah Belanda pergi ke Barus, potongan badan yang lainya yaitu potongan mulai dari leher ke kaki yang masih tergeletak dihutan dijemput oleh pasukan beliau dan dibawah ke kampung Sijungkang, disana potongan badan itu dikuburkan.
Sementara tentara Belanda yang bermarkas di Barus masih terus mempertontonkan potongan kepala Komandan Kapten Bongsu kapada para rakyat dan kepada para tahanan. Yang maksud untuk melemahkan perjuangan pasukan Indonesia di Pasar Barus agar girilyanya melemah. Potongan kepala ditenteng dalam karung itu dimulai markas di Harakka sampai ke Kota Barus. Pada hari yang ketiga, potongan beliau dikuburkanlah di Komplek penjara Barus. Setelah Bongsu Pasaribu gugur pada tanggal 3 Maret 1949. Maka puncuk pimpinan sebagai Komandan Round akhirnya dipegang sementara oleh Humahe Rambe dan kemudian diganti kepada Muliater Simatupang.
Ditulis Oleh : Cucunya, Rekson Hermanto Pasaribu
Waspada! Virus Zeus v3 Sukses Gasak Bank di Inggris
13 Agu 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
Para peretas asal Eropa Timur menggunakan virus komputer yang rumit untuk menyedot tabungan dari ribuan nasabah bank Inggris, demikian kata pakar internet seperti yang dikutip The Telegraph, Rabu (11/8).
Versi terbaru dari virus ganas ‘Zeus’ yang tidak terlacak oleh ‘firewall’ tradisional itu dilaporkan telah berhasil menggondol 675.000 Poundsterling dari kira-kira 3000 nasabah ‘online’ dari sebuah bank Inggris.
Sejak Juli dana itu ditransfer dari akun-akun online milik perusahaan maupun perorangan.
Para ahli internet dari M86 Security, yang khusus menangani permasalahan ‘online’, mengungkapkan virus itu bekerja dengan mengecek jumlah uang dalam sebuah akun, mencurinya, dan menutupi jejak dengan menampilkan rekening bank palsu kepada nasabah.
Perusahaan keamanan internet yang bermarkas di California dan Inggris itu membongkar rencana jahat tersebut ketika berhasil masuk ke dalam ‘server command’ para maling yang berbasis di Eropa Timur dan menemukan daftar transfer uang.
Para pakar itu kemudian membuat laporan yang menjelaskan proses serangan itu dan menginformasikannya kepada polisi maupun bank yang bersangkutan dua pekan silam.
Mereka juga mengakui serangan itu akan terus berlanjut.
Virus ‘Zeus’ yang mengincar rekening bank pertama kali muncul tiga tahun lalu. Versi terbarunya, ‘Zeus v3′, tidak hanya mencuri data ‘login’, kata kunci, dan detail bank, tetapi juga bisa mentransfer uang dari rekening yang diinginkan.
“Ini adalah versi yang paling rumit dari virus Zeus dan tidak bisa dideteksi oleh piranti lunak keamanan tradisional,” kata Bradley Anstis, wakil presiden bidang teknis pada M86 kepada The Times.
Virus itu pun ternyata tidak hanya terdapat di area-area ‘lampu merah’ seperti situs-situs judi atau porno tetapi juga di situs yang lebih populer seperti mesin pencari, blog, atau situs berita.
Tahun lalu virus itu ditemukan pada sebuah iklan di laman web New York Times.
M86 Security mengatakan komputer nasabah bank online tertular virus itu dari laman-laman web resmi melalui ‘lubang’ di Internet Explorer dari Microsoft atau aplikasi-aplikasi dari Adobe Reader.
Begitu komputer terinfeksi, virus yang termasuk ‘spyware Trojan’ itu bersembunyi dalam ‘browser’ pengguna komputer sampai tersambung ke rekening bank mereka.
Virus itu akan mulai bekerja ketika nasabah mengecek rekening mereka lalu memeriksa jumlah rekening itu.
Jika rekening itu berisi lebih dari 800 Poundsterling maka virus itu mulai memindahkan uang itu secara tersembunyi ke ‘rekening sementara’, sebuah rekening yang dimiliki oleh nasabah resmi yang juga telah dibajak para peretas itu.
Bank-bank utama Inggris menolak untuk berkomentar terkait kemungkinan nasabah mereka menjadi salah satu korban para peretas Eropa Timur itu.
Organisasi perdagangan Inggris (United Kingdom Payments Administration) mengatakan korban kejahatan perbankan secara online meningkat 18 persen tahun lalu menjadi 59,7 juta Poundsterling.
SMAN Camapka Purwakarta
25 Apr 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
BUPATI PURWAKARTA DIMINTA ADIL :
Pemecatan Kepala SMAN Campaka Dinilai Sesuai UU PNS
Purwakarta, Jayapos News
Bupati Kabupaten Purwakarta Dedi Mulyadi dihimbau tetap mengimplementasikan dunia pendidikan dengan kebijakan membersihkan Kepala Sekolah yang malas ‘ngantor’ (absent) dengan pemecatan. Permintaan itu dinilai sesuai dengan acuan undang undang PNS yang absen kerja berturut-turut, maka sesuai aturannya dapat diberhentikan oleh negara. Untuk golongan II, pemberhentian cukup dikeluarkan oleh Bupati, selain akan membuat jera dan takut bagi rekan-rekan sehingga mereka rajin masuk.
Untuk itu Bupati Dedi Mulyadi diharapkan kebijaksanaanya untuk meredam gejolak yang berkembang di masyarakat. Jalan satu satunya iya harus menindak Kepala SMA Negeri Campaka Drs Marseno. Karena sampai koran ini diterbitkan, ratusan anak didik Sekolah Menegah Atas (SMA) Negeri Campaka di Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, nasibnya tidak jelas juntrungannya karena bakalan tidak mempunyai gedung sekolah, sehingga mereka harus numpang di gedung Sekolah Tingkat Pertama (SMP) Negeri 1 (satu) Campaka, sejak tahunan silam.
Kepala SMAN Campaka, Marseno sudah tahu anak didiknya terlantar, dia malahan jarang masuk (absent) hingga hampir berbulan bulan lamanya di gedung ‘numpang’. Boro boro pihaknya mengajukan surat permohonan kepada Dinas Pendidikan (Disdik) Purwakarta dan Bupati Purwakarta agar segera didirikan gedung sekolah, eh..yang ada dibenaknya upah honor gaji Kepala Sekolah dari jarang masuk terus rutin diterima (enak amat…?).
Permintaan itu disampaikan oleh sejumlah orangtua murid, tokoh masyarakat dan sesepuh yang angkat bicara memohon dengan hormat kepada Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi untuk supaya harus menindak tegas Kepala Sekolah, Marseno dengan menggantikannya (copot) dari jabatan. Itu terbukti setelah Drs Marseno sering absen (jarang ngantor) dan sering membolos di hari kerja. Itu mereka sampaikan ke koran ini.
“Kalau Drs Marseno terus dibiarkan menduduki posisi Kepala Sekolah SMAN Campaka, setiap bulannya akan menguras anggaran negara. Untuk itu Bupati Dedi Mulyadi harus bersikap berani bertindak. Bila perlu dilakukan pemecatan karena sudah sesuai aturan PNS. Itu harus diimplementasikan karena banyak anggaran yang dialokasikan untuk PNS selain menghambur hamburkan anggaran, “tegas Saefudin toko masyarakat dan para orangtua murid kepada Jayapos
News, Jumat (23/4).
Selain pemborosan uang Negara, menurut Arif, “dengan tindakan tegas Bupati Dedi Mulyadi ini bisa menciptakan perbaikan kualitas di instansi pemerintah. “Kalau ada pemecatan, itu akan membuat jera dan takut bagi rekan-rekan kepala Sekolah untuk berbuat hal yang sama sehingga mereka rajin untuk masuk kerja. PNS yang absen kerja berturut-turut, maka sesuai aturannya dapat diberhentikan oleh negara.Untuk golongan II, pemberhentian cukup dikeluarkan oleh Bupati. Sebab aturan tentang pemecatan kepada PNS itu sudah ada tertera jelas dalam undang-undangnya, ” ucap Arif.
Kepala SMAN Campaka, Marseno juga sudah mengakui sendiri kalau selama ini jarang masuk kantor (seperti yang dilangsir koran ini sebelumnya-red). Alasan Marseno, karena dia sibuk memimpin sekolah lain yaitu menjadi Kepala SMA N2 Purwakarta. “Saya tidak bisa membagi waktu untuk tetap hadir di sekolah SMAN Campaka, karena saat ini terfokus di SMA N2 Purwakarta, “ujar Marseno berasalan. Padahal, diketahui koran ini jadwal masuk sekolah berselang, di SMA N2 Purwakarta pada pagi hingga siang dan jadwal masuk di SMAN Campaka masuk sore. Alasan ini dinilai hanya untuk menyelamatkan dirinya supaya honor lebih Rp 1 juta supaya tetap dia terima.
Menurut informasi Jayapos News yang diketahui dilapangan, gedung SMP Negeri Campaka pada awal penerimaan murid baru diprediksi akan membludak. Pendaftar yang masuk sore akan terganggu karena seperti biasa anak murid baru selalu didampingi oleh orangtua masing masing. Itu juga akan mempengaruhi proses belajar murid SMA yang digabung dengan murid SMP. Bagaimana bisa jadwal masuk teratur rapi sementara kepala SMA Negeri Campaka tidak tampak batang hidung.
Skop nasional diketahui bahwa pihak Departemen Pendidikan Nasional memperkirakan 70 persen dari 250 ribu kepala sekolah di Indonesia tidak kompeten. Berdasarkan ketentuan Departemen, setiap kepala sekolah harus memenuhi lima aspek kompetensi, yaitu kepribadian, sosial, manajerial, supervisi, dan kewirausahaan. Namun, hampir semua kepala sekolah lemah di bidang kompetensi manajerial dan supervisi. Padahal dua kompetensi itu merupakan kekuatan kepala sekolah untuk mengelola sekolah dengan baik. Asumsi koran ini, seprti itulah yang terjadi dengan Kepala Sekolah Drs Marseno. Sementara itu, Bupati Dedi Mulyadi belum berhasil ditemui, oleh pegawainya Bupati sedang kunjungan kerja keluar. (son/udin)
Pemecatan Kepala SMAN Campaka Dinilai Sesuai UU PNS
25 Apr 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
BUPATI PURWAKARTA DIMINTA ADIL :
Pemecatan Kepala SMAN Campaka Dinilai Sesuai UU PNS
Purwakarta, Jayapos News
Bupati Kabupaten Purwakarta Dedi Mulyadi dihimbau tetap mengimplementasikan dunia pendidikan dengan kebijakan membersihkan Kepala Sekolah yang malas ‘ngantor’ (absent) dengan pemecatan. Permintaan itu dinilai sesuai dengan acuan undang undang PNS yang absen kerja berturut-turut, maka sesuai aturannya dapat diberhentikan oleh negara. Untuk golongan II, pemberhentian cukup dikeluarkan oleh Bupati, selain akan membuat jera dan takut bagi rekan-rekan sehingga mereka rajin masuk.
Untuk itu Bupati Dedi Mulyadi diharapkan kebijaksanaanya untuk meredam gejolak yang berkembang di masyarakat. Jalan satu satunya iya harus menindak Kepala SMA Negeri Campaka Drs Marseno. Karena sampai koran ini diterbitkan, ratusan anak didik Sekolah Menegah Atas (SMA) Negeri Campaka di Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, nasibnya tidak jelas juntrungannya karena bakalan tidak mempunyai gedung sekolah, sehingga mereka harus numpang di gedung Sekolah Tingkat Pertama (SMP) Negeri 1 (satu) Campaka, sejak tahunan silam.
Kepala SMAN Campaka, Marseno sudah tahu anak didiknya terlantar, dia malahan jarang masuk (absent) hingga hampir berbulan bulan lamanya di gedung ‘numpang’. Boro boro pihaknya mengajukan surat permohonan kepada Dinas Pendidikan (Disdik) Purwakarta dan Bupati Purwakarta agar segera didirikan gedung sekolah, eh..yang ada dibenaknya upah honor gaji Kepala Sekolah dari jarang masuk terus rutin diterima (enak amat…?).
Permintaan itu disampaikan oleh sejumlah orangtua murid, tokoh masyarakat dan sesepuh yang angkat bicara memohon dengan hormat kepada Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi untuk supaya harus menindak tegas Kepala Sekolah, Marseno dengan menggantikannya (copot) dari jabatan. Itu terbukti setelah Drs Marseno sering absen (jarang ngantor) dan sering membolos di hari kerja. Itu mereka sampaikan ke koran ini.
“Kalau Drs Marseno terus dibiarkan menduduki posisi Kepala Sekolah SMAN Campaka, setiap bulannya akan menguras anggaran negara. Untuk itu Bupati Dedi Mulyadi harus bersikap berani bertindak. Bila perlu dilakukan pemecatan karena sudah sesuai aturan PNS. Itu harus diimplementasikan karena banyak anggaran yang dialokasikan untuk PNS selain menghambur hamburkan anggaran, “tegas Saefudin toko masyarakat dan para orangtua murid kepada Jayapos
News, Jumat (23/4).
Selain pemborosan uang Negara, menurut Arif, “dengan tindakan tegas Bupati Dedi Mulyadi ini bisa menciptakan perbaikan kualitas di instansi pemerintah. “Kalau ada pemecatan, itu akan membuat jera dan takut bagi rekan-rekan kepala Sekolah untuk berbuat hal yang sama sehingga mereka rajin untuk masuk kerja. PNS yang absen kerja berturut-turut, maka sesuai aturannya dapat diberhentikan oleh negara.Untuk golongan II, pemberhentian cukup dikeluarkan oleh Bupati. Sebab aturan tentang pemecatan kepada PNS itu sudah ada tertera jelas dalam undang-undangnya, ” ucap Arif.
Kepala SMAN Campaka, Marseno juga sudah mengakui sendiri kalau selama ini jarang masuk kantor (seperti yang dilangsir koran ini sebelumnya-red). Alasan Marseno, karena dia sibuk memimpin sekolah lain yaitu menjadi Kepala SMA N2 Purwakarta. “Saya tidak bisa membagi waktu untuk tetap hadir di sekolah SMAN Campaka, karena saat ini terfokus di SMA N2 Purwakarta, “ujar Marseno berasalan. Padahal, diketahui koran ini jadwal masuk sekolah berselang, di SMA N2 Purwakarta pada pagi hingga siang dan jadwal masuk di SMAN Campaka masuk sore. Alasan ini dinilai hanya untuk menyelamatkan dirinya supaya honor lebih Rp 1 juta supaya tetap dia terima.
Menurut informasi Jayapos News yang diketahui dilapangan, gedung SMP Negeri Campaka pada awal penerimaan murid baru diprediksi akan membludak. Pendaftar yang masuk sore akan terganggu karena seperti biasa anak murid baru selalu didampingi oleh orangtua masing masing. Itu juga akan mempengaruhi proses belajar murid SMA yang digabung dengan murid SMP. Bagaimana bisa jadwal masuk teratur rapi sementara kepala SMA Negeri Campaka tidak tampak batang hidung.
Skop nasional diketahui bahwa pihak Departemen Pendidikan Nasional memperkirakan 70 persen dari 250 ribu kepala sekolah di Indonesia tidak kompeten. Berdasarkan ketentuan Departemen, setiap kepala sekolah harus memenuhi lima aspek kompetensi, yaitu kepribadian, sosial, manajerial, supervisi, dan kewirausahaan. Namun, hampir semua kepala sekolah lemah di bidang kompetensi manajerial dan supervisi. Padahal dua kompetensi itu merupakan kekuatan kepala sekolah untuk mengelola sekolah dengan baik. Asumsi koran ini, seprti itulah yang terjadi dengan Kepala Sekolah Drs Marseno. Sementara itu, Bupati Dedi Mulyadi belum berhasil ditemui, oleh pegawainya Bupati sedang kunjungan kerja keluar. (son/udin)
BUKU DIPERDAGANGKAN DIRUMAH-RUMAH PENDUDUK
12 Agu 2009 1 Komentar
Purwakarta, SENTANA
Setelah disosialisasikan Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional (Permendiknas) No 2 Tahun 2008 tentang
larangan menjual buku pelajaran di sekolah kepada anak
didik/orangtua murid. Para Kepala Sekolah tingkat SD
dan SMP di 17 Kecamatan, Purwakarta tidak mau ambil
pusing lagi, memutuskan bahwa Koperasi Sekolah tidak
lagi melayani penjualan yang berbentuk buku pelajaran
apapun. Ketakutan pengajar sungguh sangat berasalan,
selain terancam pemecatan juga jadi ajang objekan
pihak luar.
Maka untuk mengkaper semua kebutuhan anak didik akan
pengadaan sarana buku Lembar Kerja Siswa (LKS),
bermunculanlah sekira ratusan toko toko buku pelajaran
dadakan yang tersebar di sekitar lingkungan sekolah
yang dinilai masih ilegal tanpa mengantongi izin
usaha, selain tempat bukunya asal asalan. Para
pengusaha membuka toko buku dadakan tidak terlepas
dari ikatan kerjasama (MoU) dengan pihak sekolah dan
percetakan yang mensuplai buku pelajaran dan pemberian
uang persentase atas penjualan buku.
Hasil pantuan SENTANA kemarin (7/9), salah satunya ada
di wilayah Kecamatan Cempaka, Purwakarta. Disana
ditemukan sebuah rumah warga milik inisial Sulis dekat
sekolah menegah pertama yang disinyalir dijadikan toko
buku pelajaran dadakan. Ribuan jenis buku pelajaran
bermacam judul kiriman beberapa percetakan terlihat
numpuk diteras rumahnya untuk dijual kepada ribuan
anak didik. Rumah Sulis dimanfaatkan jadi toko buku
dadakan menyusul adanya larangan koperasi sekolah jual
buku.
Sepintas rumah itu tak tampak seperti tempat penjualan
buku, para pejalan kaki yang melintas didepan rumah
Sulis tidak akan tahu kalau rumah itu tempat
penampungan banyak buku. SENTANA sempat terkecoh kalau
melihat rumah Sulis yang tidak ada bedanya dengan
jejeran rumah lainnya. Menurut Ani, salah seorang
siswi MTs, “yang tahu kalau rumah itu dijadikan toko
buku hanya orang tertentu, pemiliknya hanya menjual
bukunya kepada satu sekolah saja, “ujarnya.
Pemilik toko buku pelajaran Campaka, Sulis kepada
SENTANA membenarkan, “buku yang numpuk dirumahnya
dijual hanya kepada satu sekolah tertentu yang
dihunjuk. Itu setelah menjalin kerjasama dengan pihak
sekolah dan pihak percetakan. Kalau tidak ada
kerjasama dengan pihak sekolah dan percetakan saya
tidak akan berani membuka toko buku dirumah. Ini
lumayan ada pemasukan tambahan dari pihak percetakan
dan juga dari harga buku, “ujar Sulis dirumahnya.
Hal yang sama juga terjadi di daerah Kecamatan Podok
Salam, Kecamatan Babakan Cikao, Cibatu, dan Wanayasa,
Purwakarta. Selain toko buku dadakan miliki warga, tak
sediki pula para Kepala Sekolah guru guru tingkat SD
dan SMP membuka toko buku dadakan sebagai kerja
sampingan dirumahnya. Pemandangan seperti ini pasti
sering ditemui dilingkungan sekolah. Usaha toko buku
dadakan paling ngampang dilakukan asal ada komitmen
dengan pihak sekolah dan percetakan. Usaha dagang buku
yang diguliti mendatangkan keuntungan dari harga
buku/eksplar dikali semua siswa ditambah upah dari
percetakan yang berkisar antara 15 persen hingga 20
persen.
Menurut Asep, seorang guru SMP mengatakan, “membuka
toko usaha buku pelajaran sangat menguntungkan tanpa
ada modal. Buku dari percetakan sifatnya “laku
dulu” dijual ke sekolah “baru bayar”, sementara
untuk menjual buku juga tidak harus menawarkan barang
buku ke anak didik dan tidak usaha membuat toko
layaknya seperti toko-toko dipinggir perkulakan. Pihak
sekolah akan mengarahkan, menyuruh sendiri para anak
didiknya agar membeli buku ke tempat yang dihunjuk.
Tempat yang sudah disepakati antara sekolah,
percetakan dan toko buku (Kerjasama), “katanya. SON

